CATATAN MINGGUAN

Bissmillahirrahmannirrahim.

( Bekasi, Pekan ke-3, 17-18 Mei 2012 )
SEHARI BERSAMA JKT 48

Terdiam di depan monitor, siaga, guna melayani pelanggan. Di libur nasional kini, aku tetap bekerja, membantu usaha keluarga. Kadang rasa bosan itu datang, namun sering ku abaikan. Aktualisasi blog, game online hingga jejaring sosial menjadi ritual. Lalu tibalah aku pada momen terunik di pekan ini.

Malam semakin larut, dan pagi pun mulai menghampiri. Lewat twitter ku ajak kawanku Mijnheer untuk menyaksikan debut konser JKT 48. Gedung Nyi Ageng Serang JakSel yang dipilih sebagai area pertunjuannya. Berbagai transaksi tengah terjadi, seperti merchandise hingga tiket pertunjukkan.

Karena sistem rotasi, maka member yang tampil hari itu hanya 16 orang. Walau Oshimen ku Melody tidak tampil, namun cukup terobati kala Ayana, Shania dan ke 14 member lainnya tampil atraktif. 14 lagu baru dibawakan dengan koreografi dan formasi yang beragam. Hingga menyihir penonton untuk tak henti-hentinya terperangah dan terkagum-kagum.

Kehebohan juga terjadi pada penonton yang hadir. Mereka bersorak tiada henti dari awal hingga akhir konser. Tak jarang pula meneriakkan nama Oshimen yang tengah bernyanyi. Dekorasi, lighting, maupun sound system berpadu dengan harmonis. Tidak megah, simpel, namun sangat mengakomodir penampilan para member.

Interaksi yang dilakukan para member pun sangat interaktif. Perkenalan diri, penjelasan lagu, hingga sambutan dilakukan dengan hangat. Kala rehat, yale-yale “J-K-T”, “4-8″ diteriakkan dan bersaut-sautan oleh penonton. Dan terhenti kala 5 member lain seperti Cleo , Nabilah dan lainnya memperkenalkan diri. 3 lagu tambahan ditampilkan dengan “Kimi No Koto Ga Suki Dakara” sebagai penitup.

Kejutan yang dipersiapkan adalah “High-Touch” dengan para member. Para penonton pun menyambut dengan antusias dan gembira. Sekitar 20 member telah berjejer manis di luar area pertunjukkan. Satu persatu penonton menghampiri member dan melakukan “High-Touch”. Pertama kalinya aku menyaksikan dan bersalaman secara langsung dengan member JKT 48.

Perlahan pengunjung meninggalkan lobi dengan senyum yang merekah. Dapat disimpulkan bahwa konser ini sangat memenuhi dahaga para penggemar. Kualitas dan inovasi seperti inilah yang membuat JKT 28 sulit untuk ditinggalkan oleh para penggemarnya. Mario Teguh pernah berkata : “Yang berasal dari hati, akan berlabuh di hati pula “. Keseriusan dan ketulusan mereka dalam berkarya akan melekat kuat di hati dan pikiran kami.

Alhamdulillahirabilalamin.

CATATAN MINGGUAN

Bismillahirahmanirahim.

( Selasa, 15 Mei 2012 )

Molekul-molekul angin itu menyebar ke segala arah sejauh sudut 90 derajat dan menebarkan suhu yang lebih rendah sejauh kipas elektrik itu bergerak. Kulihat rokok itu telah mencapai 2/3 dari tubuh utuhnya semakin cepat terbakar ketika angin itu menerpanya, juga semakin habis hingga tersisa puntungnya saja.

Tadi malam aku berbincang dengan salah satu sahabat karib yang bernama “D.W.”, sahabat seperjuangan sejak masa Pengenalan Kampus 5 tahun silam. Ia juga merupakan seorang sahabat yang ku anggap sebagai abang, karena banyak nilai-nilai positif yang aku contoh darinya.

Ia telah bekerja sejak 2 tahun silam , telah beristri, dan telah memiliki seorang anak. Ia merupakan sosok pekerja keras, seorang sosok yang tak pernah berhenti mengejar ambisinya demi orang-orang yang dicintainya. Ia juga berpesan “bulatkan tekad, kejar, usaha & pertahankan langkah hingga keinginan itu tercapai namun tetap dengan tawakal dan doa”.

Aku tak boleh membuang pesan-pesan baik ini, harus ku pikirkan dalam-dalam, matang-matang, karena semoga penantianku ini benar-benar suatu jalan dari-Nya. Kini hanya kesabaranku yang tengah di uji coba, mental dan lainnya. Aku pun harus yakin bahwa sebentar lagi jalan ini benar merupakan pintu bagiku untuk mengais rizki, rizki dari zat yang maha pemurah, Allahuakbar.

Alhamdulillahirabilalamin.

FRAGMENTASI SEBELUM PERGI # 2

Image

Bismillahirahmanirahim.

( Senin, 2 April 2012 )

Ku layangkan pandang ke langit sana, tak tampak sedikit pun terangnya mentari. Awan mendung yang jadi penguasa ketinggian singgasana itu sekarang, nampaknya akan menghujani bumi dengan butiran air secara bertubi-tubi. Hari ini adikku yang tengah diopname sejak pertengahan pekan lalu, Alhamdulillahtelah kembali ke kondisi semula dan kembali ke kediaman. Tak lagi ia berteman dengan kasur berbuluangsa, cairan ion maupun tabung oksigen.

Sebelum uap air yang tengah tertahan oleh awan hitam itu tertarik oleh gravitasi. Aku putuskan untuk segera meninggalkan kediaman dan menuju “pabrik ilmu” yang orang kebanyakan menyebutnya Universitas. Aku tengah mengikat janji dengan kawan-kawan hari ini untuk bertemu, karena Frankey kawan lama ku juga akan kesana.

Namun pertemuan kami di batasi oleh pertemuan dadakan dengan Satou san. Setelah menyelesaikanurusan dengannya aku kembali ke kampus, karena Frankey dan kawan-kawan lain masih menunggu,kami bertukar cerita lama maupun menikmati “ minuman perdamaian ” , inilah yang dinamakan dengankebersamaan. Malam hari aku tak pulang ke kediaman, aku menginap di apartemen Yulio bersama Nauli, salah satu generasi penerus fungsionaris FS dan kawan seperjuangan dialektika-ku.

( Selasa, 3 April 2012 )

Siang hari kami kembali ke kampus, cuaca pun tak jauh berbeda dengan kemarin, rintikan hujan masih membasahi bumi Jakarta bagian Timur. Setelah itu aku kembali ke kediaman untuk sekedar berganti pakaian dan membawa beberapa rupiah lalu kembali ke kampus karena siang harinya ada pertemuan dengan kawan-kawan 2007.

Setelah petang menjelang kami semua bergegas menuju kediaman Reza, karena ia dan keluarga mengadakan sekedar perayaan untuk kepergian kami semua. Insyaallah dengan perayaan tersebut,dapat mengantarkan kami dengan selamat kesana, Negeri Sakura, dan dapat menempuh kesuksesan seperti yang keluarga kami harapkan.

Setelah itu aku mengantar Silva, mahasiswi 2007 yang baru saja kembali dari Negeri Sakura, guna meningkatkan kemampuan berbahasa Jepangnya. Lalu melanjutkan perjalanan ke Ciputat lewat jalur lingkar luar selatan Jakarta untuk menuju kediaman Nauli, karena aku berniat untuk berbagi metode belajar bersamanya.

( Rabu, 4 April 2012 )

Ciputat memang benar-benar masih berbeda dibandingkan wilayah JABODETABEK, pagi hari masihd apat ku dengar kicauan burung liar, maupun hembusan angin sejuk yang belum terkooptasi dengan limbah industri. Kondisi ini yang membuatku kondusif dalam mencerna pelajaran kala itu.

Malam hari setelah waktu Isya, aku kembali ke Bekasi, karena dini hari nanti hendak menunaikan janji bersana Adhi untuk menyaksikan pertandingan Real Madrid kontra Apoel bersama komunal Madridista Indonesia. Sebelum itu bertemu dengan Bang Osmond untuk mengembalikan buku dan passportnya yang dititipkan Satou san kepada Nauli.

Dini hari aku melaju ke bilangan Utara Bekasi, area tempat kediaman Adhi berada. Walau banyak yang ku lupa arah untuk menuju kesana, namun akhirnya Tuhan menuntunku hingga ke depan pintu kediamannya. Pukul 01.12 aku telah tiba di Café Djaloe, tempat berlangsungnya nonton bareng RealMadrid. Untuk pertama kali pula aku berpartisipasi di dalamnya. Aku bahagia, karena tim pujaanku menang telak atas lawannya pagi itu. Dengan kemenangan akumulasi 8-2, dan mengantarkannya kebabak semi-final UEFA Champions League.

( Kamis, 5 April 2012 )

Cuaca pagi ini tak jauh berbeda dengan hari-hari kemarin. Angin yang bereaksi dengan H2O masih berhembus lewat lubang jendela dan memasuki ruang kamar. Kala itu aku terbangun oleh sebuah mimpi yang juga tak jauh berbeda dari beberapa minggu yang telah lalu. Disana masih sering ku temui seorang gadis cantik nan mempesona yang tengah dipilih oleh hati dan nuraniku. Ia adalah adik kelasku dikampus, dan namanya … ”…” , ah tidak etis rasanya kusebutkan namanya disini.

Sejenak aku terjaga dan bersandar pada bibir kasur, mengernyitkan dahi dan mengusap muka. Nafasku pun terengah-engah, agak gelagapan, seolah tengah berebut udara. Yang kuingat hanya dirinya, “Astaghfirullahaladzim” berulang kali ku ucapkan, berharap dapat meredakan kondisi yang keruh nan komplikasi itu. Nurani ku berkata “ inilah saatnya untuk berkata wahai tubuh ” , namun akalku berkata lain “bukan !, ini bukan saatnya !, belum tepat!”, namun aku lebih memilih pendapat yang berasal dari nurani. Sekaranglah saatnya, karena gegap gempita keberangkatan belum menghampiri. Ini lah saatnya … ini lah saatnya …

Dengan motor beroda dua itu aku kemudikan langkahku menuju kampus, tempat dimana gadis pujaanku tengah berada. Kudapati ia berada di ruang BEM yang kelihatannya tengah berada pada aktifitas mengorganisir, entah apa tepatnya, karena menulis tengah ia lakukan dengan serius, dan masih saja dapat kurasakan pesonanya yang terpancar, sejenak aku tersenyum malu memandangnya.

Kutunggu momen itu, dan kutunggu dengan cukup sabar, hingga pada sore hari menjelang petang kudapati ia keluar ruangan, dan segera ku minta waktu darinya untuk berbincang denganku. Ia pun meng-iya-kan ajakaku, dengan senyum indah yang sama nan menyejukkan hati dan pandang mata. Aku utarakan rasa ku padanya, disertai sedikit sebab dan alasan dengan gugup. Dan benar saja yang terjadi sesuai dengan akalku, aku tak akan diterimanya kali ini. Namun entah mengapa aku masih tetap dapat tersenyum, walau ini kali pertama aku di tolak oleh seorang gadis.

Aku masih harus berusaha, aku masih menyimpannya pada ujung tertinggi dari lemari tempat kumenaruh mimpi-mimpi, sosoknya yang misterius bak sebuah ruang gelap, tengah memberikan pelita pada hidup yang tengah redup ini. Semoga Tuhan mendengar doaku, untuk menjaganya, dan untuk menjaga langkahku agar kelak dapat menjadi seorang pribadi yang pantas baginya.

( Jum ’ at, 6 April 2012 )

Aku terjaga di siang hari, kala suara adzan shalat Jum ’ at tengah berkumandang dan menggema keseluruh pelosok bumi. Aku anggkat telepon genggam yang kupinjam dari ayah untuk sementara, dan kudapati ada beberapa pesan singkat yang masuk. Segera kuhubungi kawan-kawan yang telah mengikat janji denganku untuk menunda pertemuan hingga pukul 3 sore.

Bergegas aku persiapkan segala sesuatunya, mulai dari aerobik, hingga mandi. Dan melaju ke kediaman Mike di bilangan Matraman, aku tak boleh mengecewakan mereka, mereka adik kelasku, namun juga sahabat baikku, manusia-manusia yang masih menerimaku baik dalam kondisi tinggi maupun terpuruk, aku bangga dengan mereka.

Pukul 16.00 sore kami semua telah berkumpul di kediaman Heru yang juga sepupu dari Mike, kami mengajaknya untuk menunaikan tugas politik organisasi. Lalu mengunjungi markas Organisasi Politik haluan kiri dan meminta beberapa kontak mobile, dan menuju Ciputat kediaman Nauli. Kami pulang pada tengah malam, dengan guyuran hujan yang tak henti-hentinya membasahi bumi hingga pukul 2malam.

Ia, gadis pujaanku, yang sosoknya misterius bak ruang gelap tengah hadir dan menerangi bak pelita ditengah hidupku yang memudar. Tunggu aku, doakan aku, aku akan meraih sukses dunia, agar kela kdapat menjadi pribadi yang pantas untuk meminangmu. Insyaallah.

 

Alhamdulillahirabilalamin.

FRAGMENTASI SEBELUM PERGI

Image

( Jum’at, 23 Maret 2012 )

Siang itu, angin segar nan sejuk membelai tubuh kurus ini, ketika aku tengah bersantai di suatu balkon di “hutan batu” di Cisarua. Angin itu berdatangan dari segala penjuru, bak ratusan semut memperebutkan sebongkah botol madu. Namun belaiannya sungguh lembut dan menyegarkan, mungkin benar jika pemuka agama mengatakan bahwa angin itu pembawa berkah sekaligus azab. Hanya tersenyum simpul bila ku ingat kalimat itu, karena kurasa hal itu tidak hanya berlaku pada angin..

Pekan lalu aku menghadiri undangan pada momentum LDKM 2012. Aku diminta untuk membagi pengalaman mengenai falsafah mahasiswa kepada kawan-kawan 2011.  Sungguh menyenangkan, namun ironis karena hanya aku alumnus yang hadir. LDKM ini merupakan impianku sejak beberapa tahun silam, karena kuanggap sebagai anti tesis dari MAKRAB. Alhamdulillah impian ku ada yang meneruskan, dan aku diminta untuk menjadi pembicara pula. Kurang bahagia apa aku ini.

 

( Minggu, 25 Maret 2012 )

Aktifitas LDKM itu berakhir pada hari Minggu dari pekan ke 4 bulan Maret. Seluruh rombongan di bagi menjadi 2 bus, dan tiba di Jakarta pada pukul 5 sore. Sesampainya di Kampus dengan lekas ku berpamitan dengan kawan-kawan lalu mempersiapkan segalanya untuk menuju rencana berikut, test kemampuan Jepang bersama kawan-kawan 2007. lalu segera kutinggalkan segala urusan di kampus dan melaju menuju kafe Ef Three dibilangan Bekasi Utara. Sesampainya disana ku jawab semua pertanyaan dengan tenang dan sedikit tergesa-gesa. Dan ternyata rencana keberangkatan Selasa pada minggu ke 5 ini lagi dan lagi harus di tunda.

CATATAN MINGGUAN

Pekan lalu masih merupakan pekan yang tenang bagiku. Berhubung perkuliahan masih dalam status libur semester. Walaupun libur, aku masih saja harus pulang pergi ke kampus. Masih harus menyelesaikan tugas-tugas organisasi. Sepertihalnya Kaiwa Club, Erasmus Mundus, hingga Radio Fakultas Sastra. Memang seharusnya aku sudah melepaskan tugas-tugas itu. Tetapi karena kondisi dari mahasiswa yang ada di fakultas masih memprihatinkan, dengan berat hati aku memutuskan untuk terus terjun ke dalam kegiatan itu. Ya setidaknya hingga aku menyelesaikan semester akhir di perkuliahan ku ini.

Perkembangan Kaiwa Club cukup baik, terutama bila dibandingkan dengan organisasi lain, atau kepengurusan beberapa tahun silam. Kondisi saat ini telah mempunyai pengurus yang sedikit, tetapi memiliki loyalitas yang cukup baik terhadap organisasi. Organisasi ini pun telah didukung penuh oleh Ketua Jurusan Fakultas Sastra Jepang, Rini sensei, yang juga pembimbing akademis ku di perkuliahan. Minggu lalu aku dan pengurus lainnya seperti Ramot, Bunge, Erryl, Geo, Cia, Fajar, dll, masih disibukkan akan aktifitas ramat dan penyempurnaan proposal. Karena kegiatan ini membutuhkan anggaran dana yang cukup banyak, pemaparan konsep materi yang baik, hingga keperluan teknis lainnya, semua itu harus di sisipkan kedalam proposal guna menunjukkan keseriusan kami di dalam menjalankan acara ini. Aku harap kerja keras ku dan para pengurus lainnya ini dapat membuahkan hasil, baik bagi kami, peserta, maupun Universitas.

Lalu pada pekan lalu aku juga masih menyelesaikan tugas-tugas dari Erasmus Mundus Student Club. Pekan lalu kami masih melakukan beberapa kegiatan rapat. Salah satu agendanya pun membahas buletin bulanan yang akan terbit pada bulan depan. selain itu kami pun masih di sibukkan dengan agenda-agenda study tour yang padat pada bulan ini yang membuat kami harus sering-sering berkoordinasi, entah itu dengan rapat, telfon-telfonan, hingga lewat jejaring sosial elektronik. Pada akhir pekan lalu di hari Sabtu malam pun kami sempat mengadakan pertemuan di salah satu tempat tinggal pengurus. Kami berdebat, bertukar pendapat. Dan berujung kesimpulan bahwa kami akan mengadakan pertemuan pada pekan ini.

Ada juga kegiatan yang lainnya seperti Radio Fakultas Sastra. Sebenarnya pada tahun 2004 lalu, radio ini sudah ada. Tetapi karena tidak ada pengelolanya, maka mulai dari tahun 2005 sudah di non aktifkan. Dan mengingat pertemuan seluruh elemen fakultas sastra pada bulan lalu. ternyata ide untuk mendirikannya kembali timbul lagi, dan aku beserta beberapa teman-teman lainnya berkeinginan untuk menggagasnya kembali. Dan hari Senin kemarin pun aku telah selesai menyelesaikan proposalnya. Hanya tinggal penyempurnaan. Dan kemungkinan besar akan ku adakan rapat lagi sebelum penyempurnaan proposal ini.

Semoga apa-apa yang aku jalankan pada pekan lalu dapat berguna.. Amin

Bekasi, 22 Februari 2011

Ilham Badia Parapat

DUNIA DIKUASAI OLEH MANUSIA YANG GIAT BERKEGIATAN

 

Giat merupakan persamaan kata dari kata rajin, ulet, atau tekun. Giat juga di ambil dari kata kegiatan, yang berarti aktifitas, rutinitas, dll. Sadarkah kalian bahwa dunia ini dikuasai oleh manusia-manusia yang giat. Manusia-manusia yang tidak pernah lelah berkegiatan. Dalam hal apapun, entah dalam hal ekonomi, sosial, politik, dll. Tidak sedikit dari manusia yang giat itu yang namanya tersimpan di buku sejarah, dan mungkin di dalam hati banyak orang. Hanya karena kegiatannya yang di lakukan dengan giat.

 

Lihat saja Barack Obama, seorang warga negara Amerika biasa, yang notabenenya orang kulit hitam itu dapat menjadi seorang presiden dari negeri Paman Sam, negeri yang amat tinggi, yang disertai dengan persyaratan tinggi pula dalam hal apapun, termasuk menjadi artis fil porno. Makanya negeri mereka merupakan negeri yang teratas, negeri langitnya dunia. Utopian. Kembali ke Barack Obama, karena giatnya ia dalam beraktifitas, maka kinerjanya selama ini benar-benar memberikan hasil, dan membuatnya pantas berada diposisinya sekarang.

Lihat saja Orang-orang Tionghoa yang ada dimanapun, mereka pun terkenal akan sikapnya yang giat, di dalam hal apapun. Paradigma ini pula yang membuat mereka menjadi ras yang sangat dilematis. Ras yang paling maju di negari ini, ras yang paling giat, ras yang paling gigih, hingga menghasilkan citra yang baik, yang tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri, tetapi juga bagi orang-orang ras lain yang berfikir.

Lalu lihat saja seorang koruptor, ia tidak akan menjadi koruptor kelas kakap, apabia mereka tidak gigih berjuang hingga posisi dimana mereka berada, hal itu pun bermula dari satu sikap yang dinamakan dengan giat. Begitu pula dengan seorang Playboy kelas kakap, supermodel, legenda musik, semua itu terjadi karena satu kata “giat”.

Aku pun tidak akan berbicara panjang lebar lagi, aku hanya bisa menghimbau. Bila ingin kaya, ya harus giat mencari uang. Bila ingin pintar, yang harus giat belajar. Bila ingin mendapatkan seorang wanita ya harus giat bercumbu rayu. Bahkan bila ingin menguasai dunia, maka harus lah giat di segala-galanya.

Bekasi, 17 Februari 2011.

Ilham Badia Parapat

 

DEMORALISASI CITA

Wahai kawanku, mahasiswa, pelajar, Doktor, Ahli Madya, Profesor yang ada di luar sana, yang sedang berhadapan dengan pekerjaan, tugas atau materi pendidikan yang sedang kalian tuntut dan kerjakan detik ini, adakah yang benar-benar kalian inginkan, butuhkan, minati?

Sebutkan!

Berapa banyak dari kalian yang belajar sesuai dengan apa yang benar-benar kalian kehendaki, benar-benar kalian minati,

Sebutkan!

Sebutkan kepadaku!

Sejak 1 dekade silam, tepatnya sejak aku menginjak kursi pendidikan tingkat Sekolah Dasar, aku benar-benar merasakan apa yang dinamakan dengan pemaksaan, pemaksaan atas dasar kebaikan. Sejak saat itu Orang tua ku selalu memaksakan banyak hal dalam pendidikan, mulai dari nilai rapot yang baik, kehadiran masuk sekolah yang sempurna, hingga Pekerjaan Rumah yang juga harus diselesaikan tepat waktu. Itu semua berasal dari satu kata yang di sebut “Pemaksaan”. Mungkin kala itu aku tidak dapat memprotes, tidak dapat mempertanyakan, mengapa aku harus melakukan ini, melakukan itu. Semuanya harus sesuai dengan kehendak orang tua.

Lalu beranjak ke kursi pendidikan tingkat Pertama atau SMP, di sana pun aku seolah terperangkap, terperangkap masuk sekolah di tengah persaingan yang sangat ketat, sekolah yang mentargetkan nilai-nilai dan target-target akademis yang tertinggi di kota ku, bahkan di provinsi dimana aku tinggal. Disana pun bermula dari paksaan mereka akan keharusan untuk bersekolah di SMP itu, sementara mereka sendiri tidak memahami seperti apa kualitas yang dimiliki oleh anaknya. Kala itu seolah aku terperangkap, terbungkam, pengap, berselam akan gegap gempita arus yang kuat, membuat ku terombang ambing akan bermacam-macam hegemoni yang ada di dalamnya. Dan tetap saja mereka pun tidak memahami kualitas anaknya ini.

Lalu beranjak hingga ke kursi pendidikan yang lebih tinggi lagi, kursi pendidikan SMA, mereka tidak pernah lepas dari campur tangan dalam pengambilan keputusan. lagi-dan-lagi aku di haruskan menghadapi kursi pendidikan yang tidak aku kehendaki, kursi pendidikan yang mereka kehendaki. Aku menginginkan menempuh perkuliahan jurusan Kimia industri atau Kimia Farmasi, di salah satu lembaga Sekolah Menengah Kejurusan Swasta di Jakarta Timur. Tetapi mereka tidak juga memberikan aku keleluasaan untuk memilih, aku pun menjalankan nasib itu dengan sangat pasrah. Walaupun aku juga bisa mengukir prestasi yang cukup membanggakan di masa SMA dahulu. Tapi tetap saja, aku menjalankan nasib yang bukan aku inginkan, nasib yang “mereka” inginkan!

Lalu beranjak ke kursi yang paling tinggi, mungkin kursi pendidikan tertinggi yang bisa diraih oleh orang-orang yang berasal dari lingkungan kelurahanku, karena sebagian besar dari mereka menghabiskan masa lulus SMA dengan bekerja. Aku lah satu-satunya orang yang dapat menempuh kursi kuliah dari 3 RT yang ada di daerah ku. Tapi tetap saja mereka yang ambil alih keputusan, aku tidak di perbolehkan untuk berkuliah yang sesuai dengan jurusan ku. Aku pun jenuh, jenuh yang teramat sangat, jenuh yang menyelimuti dengan sangat. Jenuh yang sangat membabi buta ini telah mengakar, hingga merasuki lubang terdalam dari tulang rusukku.

Kejenuhan semakin parah semenjak aku menginjakkan kaki di tahun pertama aku kuliah. Aku di hadapkan dengan berbagai persoalan yang sungguh tidak rasional, persoalan yang amat pelik, yang seharusnya tidak dirasakan oleh manusia yang sedang mengalami kejenuhan dalam berpendidikan. Persoalan ini yang membuatku menjadi manusia yang pembangkang, manusia yang selalu melawan otoritas yang membelenggunya dengan norma-norma yang mengikat. Aku berubah menjadi pribadi yang “Pembangkang” sejak aku berkuliah. Aku tidak suka dengan senioritas yang ada di fakultasku, lalu aku lawan, aku kikis dengan perlahan sistem itu, hingga tiada lagi senioritas di fakultas ku. Lalu aku juga tidak menyukai rutinitas duduk mendengarkan ceramah dosen, aku jenuh karena dosen itu hanya mengulang-ulang pelajaran yang ada di dalam buku, tetapi tidak dapat mengeksplorasi lebih jauh intelektual yang ia miliki, aku jenuh, dan rutinitas itu pun aku lawan.

Aku jenuh, aku butuh pelarian, tempat, maupun wadah yang dapat membuat ku nyaman berangkat kuliah. Dan aku menemukannya di dalam organisasi kemahasiswaan. Awalnya aku pun tidak menginginkan untuk berorganisasi, tetapi karena “Polemik Sialan” itu lah aku jadi berorganisasi. Pelarian ini jelas memberikan dampak bagi tujuan awalku menginjak bangku pendidikan di Universitas. Hingga kini aku telah terjun kedalamkubangan air itu, terjun kedalam dasar danau itu, dalam dan lebih mendalam lagi hingga aku lupa akan daratan di mana aku seharusnya “meng-ada”. Aku menjadi semakin melupakan daratan itu, dalam dan semakin dalam. Dan danau organisasi pun telah berkali-kali aku selami, telah berkali-kali aku kenali isinya, ekologinya, dinamikanya, bahkan citra akan “Penyelam Danau Organisasi” itu telah melekat kuat di dalam jiwa raga ku, hingga seolah tak mampu lagi aku melepaskan pelukannya.

Kala ini, di momentum aku sedang menuliskan kisah nan dramatis ini, aku kembali berpikir, bahwa seburuk-buruknya pilihan yang dipaksakan oleh orang tuaku ini harus aku kerjakan, harus aku selesaikan. Aku harus mengakhiri langkah ini, aku harus menggapai semua bekal-bekal ilmu pengetahuan ini di Universitas ini hingga sisa waktu akademisku ini. Walau sudah terlalu lama aku menyelam, aku tetap harus kembali ke daratan, aku harus tetap melanjutkan langkah ini.

Bila saja hal ini di rasakan oleh 1 juta jiwa mahasiswa, akademisi, pelajar, doktor, bahkan profesor yang ada di negeriku ini. Aku tidak heran jika kemajuan Pendidikan di negeriku ini statis, stagnan, berjalan di tempat. Hal ini tetap harus di jadikan pelajaran, baik oleh ku, orang-orang terdekatku, bahwa bersuara untuk mengikuti kehendak sendiri itu adalah jalan yang lebih baik ketimbang pilihan orang lain, sekalipun orang tua kita sendiri. Pelajaran bagi seorang anak untuk bersuara, dan bagi orang tua untuk mendengarkan, memahami, hingga mengarahkan anak-anaknya ke jalur yang sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Tanpa harus di lepas, dan di lupakan, tetapi juga harus di tuntun dan di semangati di semangati hingga sang anak menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bertanggung jawab akan dirinya dan nasibnya.

Bekasi, 14 Februari 2011

Ilham Badia Parapat.

Rabu, 26 Januari 2011

 

Ketika rembulan hanya menunjukkan setengah pesonanya, awan-awan menyelimuti bumi dengan kasihnya, dan bumi yang berputas searah dengan perlahannya. Di malam ini, di malam yang luar biasa ini aku mendapat banyak nilai-nilai penting, terkait dengan berbagai dimensi. Baik politik, organisasi, hingga dimensi sosial.

Malam ini aku sebut dengan luar biasa, karena sebelumnya mulai dari pagi hingga malam aku melakukan hal yang berarti, dengan orang-orang yang berarti. Dan aku makin memahami akan arti.

Siang hari aku pergi kekampus untuk mengadakan pertemuan dengan teman-teman Erasmus, guna membahas kelanjutan organisasi. Pertemuan ini cukup singkat, tapi memberi arti, yaitu bahwa bila suatu organisasi yang statis dibutuhkan ide dan tindakan yang taktis untuk mengubahnya.

Lalu aku bergabung dengan kawan-kawan pendopo yang menamakan kelompok mereka dengan HIMADESU (Himpunan Masa Depan Suram), hehe.. nama yang sangat mengiba ya.. Aku berbincang-bincang banyak dengan mereka, mulai dari opini hingga saran dan kritik yang membangun. Aku terkesan dengan mereka karena mereka sudah cukup dewasa setelah sepeninggalanku setahun lalu.

Dan hari yang luar biasa ini di tutup dengan malam menjelang pagi yang juga luar biasa. Karena setidaknya masa gelap dari organisasi fakultas, telah menuju ke arah yang mulai terang. Aku harap ini akan berjalan dengan dinamis, agar aku dapat meninggalkan kampus dengan tenang dan bahagia nantinya..

Amin..

Dan aku akan terus menyembah Tuhanku, karena menyembahnya berarti bercinta dengannya, karena bercinta dengannya berarti berbagi kasih dengannya, karena berbagi kasih dengannnya aku dapat berbagi kasih dengan sesamaku.


Bekasi, Rabu 26 Januari 2012

Ilham Badia Parapat

POLISI-MAHASISWA BAKU PUKUL DI DEPAN ISTANA

  

Liputan6.com, Jakarta: Kericuhan mewarnai unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (24/1) petang. Kericuhan antara mahasiswa dengan polisi sudah terlihat saat demonstran nekat menerobos barikade untuk masuk ke Istana Negara.

 

Saling pukul tak dapat dihindarkan saat petugas yang berjumlah puluhan berusaha mendorong pengunjuk rasa untuk membatalkan berorasi depan Istana Negara. Kericuhan terus terjadi hingga ke depan pintu gerbang Monas. Beberapa mahasiswa ditangkap karena dituding provokator. Dalam aksi ini mahasiswa menuntut agar pemerintah menghentikan segala kebohongan terhadap rakyat Indonesia.(JUM)

Apakah harus seperti ini terus?

Memori

lllll

kkkkk

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 183 other followers