
Bismillahirahmanirahim.
( Senin, 2 April 2012 )
Ku layangkan pandang ke langit sana, tak tampak sedikit pun terangnya mentari. Awan mendung yang jadi penguasa ketinggian singgasana itu sekarang, nampaknya akan menghujani bumi dengan butiran air secara bertubi-tubi. Hari ini adikku yang tengah diopname sejak pertengahan pekan lalu, Alhamdulillahtelah kembali ke kondisi semula dan kembali ke kediaman. Tak lagi ia berteman dengan kasur berbuluangsa, cairan ion maupun tabung oksigen.
Sebelum uap air yang tengah tertahan oleh awan hitam itu tertarik oleh gravitasi. Aku putuskan untuk segera meninggalkan kediaman dan menuju “pabrik ilmu” yang orang kebanyakan menyebutnya Universitas. Aku tengah mengikat janji dengan kawan-kawan hari ini untuk bertemu, karena Frankey kawan lama ku juga akan kesana.
Namun pertemuan kami di batasi oleh pertemuan dadakan dengan Satou san. Setelah menyelesaikanurusan dengannya aku kembali ke kampus, karena Frankey dan kawan-kawan lain masih menunggu,kami bertukar cerita lama maupun menikmati “ minuman perdamaian ” , inilah yang dinamakan dengankebersamaan. Malam hari aku tak pulang ke kediaman, aku menginap di apartemen Yulio bersama Nauli, salah satu generasi penerus fungsionaris FS dan kawan seperjuangan dialektika-ku.
( Selasa, 3 April 2012 )
Siang hari kami kembali ke kampus, cuaca pun tak jauh berbeda dengan kemarin, rintikan hujan masih membasahi bumi Jakarta bagian Timur. Setelah itu aku kembali ke kediaman untuk sekedar berganti pakaian dan membawa beberapa rupiah lalu kembali ke kampus karena siang harinya ada pertemuan dengan kawan-kawan 2007.
Setelah petang menjelang kami semua bergegas menuju kediaman Reza, karena ia dan keluarga mengadakan sekedar perayaan untuk kepergian kami semua. Insyaallah dengan perayaan tersebut,dapat mengantarkan kami dengan selamat kesana, Negeri Sakura, dan dapat menempuh kesuksesan seperti yang keluarga kami harapkan.
Setelah itu aku mengantar Silva, mahasiswi 2007 yang baru saja kembali dari Negeri Sakura, guna meningkatkan kemampuan berbahasa Jepangnya. Lalu melanjutkan perjalanan ke Ciputat lewat jalur lingkar luar selatan Jakarta untuk menuju kediaman Nauli, karena aku berniat untuk berbagi metode belajar bersamanya.
( Rabu, 4 April 2012 )
Ciputat memang benar-benar masih berbeda dibandingkan wilayah JABODETABEK, pagi hari masihd apat ku dengar kicauan burung liar, maupun hembusan angin sejuk yang belum terkooptasi dengan limbah industri. Kondisi ini yang membuatku kondusif dalam mencerna pelajaran kala itu.
Malam hari setelah waktu Isya, aku kembali ke Bekasi, karena dini hari nanti hendak menunaikan janji bersana Adhi untuk menyaksikan pertandingan Real Madrid kontra Apoel bersama komunal Madridista Indonesia. Sebelum itu bertemu dengan Bang Osmond untuk mengembalikan buku dan passportnya yang dititipkan Satou san kepada Nauli.
Dini hari aku melaju ke bilangan Utara Bekasi, area tempat kediaman Adhi berada. Walau banyak yang ku lupa arah untuk menuju kesana, namun akhirnya Tuhan menuntunku hingga ke depan pintu kediamannya. Pukul 01.12 aku telah tiba di Café Djaloe, tempat berlangsungnya nonton bareng RealMadrid. Untuk pertama kali pula aku berpartisipasi di dalamnya. Aku bahagia, karena tim pujaanku menang telak atas lawannya pagi itu. Dengan kemenangan akumulasi 8-2, dan mengantarkannya kebabak semi-final UEFA Champions League.
( Kamis, 5 April 2012 )
Cuaca pagi ini tak jauh berbeda dengan hari-hari kemarin. Angin yang bereaksi dengan H2O masih berhembus lewat lubang jendela dan memasuki ruang kamar. Kala itu aku terbangun oleh sebuah mimpi yang juga tak jauh berbeda dari beberapa minggu yang telah lalu. Disana masih sering ku temui seorang gadis cantik nan mempesona yang tengah dipilih oleh hati dan nuraniku. Ia adalah adik kelasku dikampus, dan namanya … ”…” , ah tidak etis rasanya kusebutkan namanya disini.
Sejenak aku terjaga dan bersandar pada bibir kasur, mengernyitkan dahi dan mengusap muka. Nafasku pun terengah-engah, agak gelagapan, seolah tengah berebut udara. Yang kuingat hanya dirinya, “Astaghfirullahaladzim” berulang kali ku ucapkan, berharap dapat meredakan kondisi yang keruh nan komplikasi itu. Nurani ku berkata “ inilah saatnya untuk berkata wahai tubuh ” , namun akalku berkata lain “bukan !, ini bukan saatnya !, belum tepat!”, namun aku lebih memilih pendapat yang berasal dari nurani. Sekaranglah saatnya, karena gegap gempita keberangkatan belum menghampiri. Ini lah saatnya … ini lah saatnya …
Dengan motor beroda dua itu aku kemudikan langkahku menuju kampus, tempat dimana gadis pujaanku tengah berada. Kudapati ia berada di ruang BEM yang kelihatannya tengah berada pada aktifitas mengorganisir, entah apa tepatnya, karena menulis tengah ia lakukan dengan serius, dan masih saja dapat kurasakan pesonanya yang terpancar, sejenak aku tersenyum malu memandangnya.
Kutunggu momen itu, dan kutunggu dengan cukup sabar, hingga pada sore hari menjelang petang kudapati ia keluar ruangan, dan segera ku minta waktu darinya untuk berbincang denganku. Ia pun meng-iya-kan ajakaku, dengan senyum indah yang sama nan menyejukkan hati dan pandang mata. Aku utarakan rasa ku padanya, disertai sedikit sebab dan alasan dengan gugup. Dan benar saja yang terjadi sesuai dengan akalku, aku tak akan diterimanya kali ini. Namun entah mengapa aku masih tetap dapat tersenyum, walau ini kali pertama aku di tolak oleh seorang gadis.
Aku masih harus berusaha, aku masih menyimpannya pada ujung tertinggi dari lemari tempat kumenaruh mimpi-mimpi, sosoknya yang misterius bak sebuah ruang gelap, tengah memberikan pelita pada hidup yang tengah redup ini. Semoga Tuhan mendengar doaku, untuk menjaganya, dan untuk menjaga langkahku agar kelak dapat menjadi seorang pribadi yang pantas baginya.
( Jum ’ at, 6 April 2012 )
Aku terjaga di siang hari, kala suara adzan shalat Jum ’ at tengah berkumandang dan menggema keseluruh pelosok bumi. Aku anggkat telepon genggam yang kupinjam dari ayah untuk sementara, dan kudapati ada beberapa pesan singkat yang masuk. Segera kuhubungi kawan-kawan yang telah mengikat janji denganku untuk menunda pertemuan hingga pukul 3 sore.
Bergegas aku persiapkan segala sesuatunya, mulai dari aerobik, hingga mandi. Dan melaju ke kediaman Mike di bilangan Matraman, aku tak boleh mengecewakan mereka, mereka adik kelasku, namun juga sahabat baikku, manusia-manusia yang masih menerimaku baik dalam kondisi tinggi maupun terpuruk, aku bangga dengan mereka.
Pukul 16.00 sore kami semua telah berkumpul di kediaman Heru yang juga sepupu dari Mike, kami mengajaknya untuk menunaikan tugas politik organisasi. Lalu mengunjungi markas Organisasi Politik haluan kiri dan meminta beberapa kontak mobile, dan menuju Ciputat kediaman Nauli. Kami pulang pada tengah malam, dengan guyuran hujan yang tak henti-hentinya membasahi bumi hingga pukul 2malam.
Ia, gadis pujaanku, yang sosoknya misterius bak ruang gelap tengah hadir dan menerangi bak pelita ditengah hidupku yang memudar. Tunggu aku, doakan aku, aku akan meraih sukses dunia, agar kela kdapat menjadi pribadi yang pantas untuk meminangmu. Insyaallah.
Alhamdulillahirabilalamin.